The Original Position

teori keadilan John Rawls tentang memulai dunia dari titik nol

The Original Position
I

Pernahkah kita melihat berita lalu menghela napas panjang? Rasanya dunia ini penuh dengan kecurangan yang dilegalkan. Ada yang lahir langsung menjadi pewaris takhta perusahaan raksasa, sementara ada yang seumur hidup banting tulang tapi nasibnya tetap di situ-situ saja. Kesenjangan ini sering kali membuat kita berandai-andai. Bayangkan jika kita punya kekuatan magis untuk menekan sebuah tombol reset semesta. Sebuah tombol yang akan menghapus semua aturan, hukum, perbatasan negara, dan harta benda di bumi. Kita menghapus semuanya, lalu mulai membangun ulang peradaban dari titik nol. Terdengar sangat menggoda, bukan? Tapi, tunggu dulu. Ada satu syarat mutlak sebelum kita diizinkan menekan tombol tersebut. Sebuah syarat psikologis yang akan menguji seberapa egois, atau seberapa adil, diri kita sebenarnya.

II

Sepanjang sejarah peradaban manusia, dari zaman kekaisaran kuno hingga revolusi modern, kita sebenarnya selalu bertengkar soal satu hal yang sama: keadilan. Kenapa ketidakadilan ini begitu awet dari abad ke abad? Jawabannya ternyata ada di dalam struktur otak kita sendiri. Secara psikologis dan evolusioner, manusia sangat rentan terhadap apa yang disebut in-group bias. Otak purba kita didesain untuk selalu mengutamakan keuntungan bagi diri sendiri dan klan kita agar bisa bertahan hidup. Jika kita yang sekarang ini diminta membuat aturan untuk dunia baru, kita pasti tanpa sadar akan merancangnya agar menguntungkan posisi kita saat ini. Yang kaya akan membuat aturan pelonggaran pajak. Yang mayoritas akan membuat hukum yang meminggirkan minoritas. Lalu, bagaimana caranya kita bisa mendesain sebuah sistem yang benar-benar adil, jika insting dasar otak kita saja sudah dipenuhi dengan prasangka bawaan?

III

Pada tahun 1971, seorang filsuf politik bernama John Rawls menawarkan cara untuk memecahkan kebuntuan psikologis ini. Ia tidak mengajak kita berdemo atau melakukan revolusi berdarah. Sebaliknya, ia mengajak kita melakukan sebuah eksperimen pikiran yang sangat elegan. Mari kita kembali ke tombol reset semesta tadi. Bayangkan kita semua sedang berkumpul di sebuah "ruang tunggu" fiktif sebelum kita turun ke dunia baru yang akan kita ciptakan. Di ruang tunggu ini, kita diberikan selembar kertas kosong untuk menulis undang-undang, sistem ekonomi, dan hak asasi manusia yang baru. Namun, tepat sebelum kita menulis, Rawls menjatuhkan sebuah mantra misterius ke dalam ruangan tersebut. Ia menyebut mantra ini sebagai veil of ignorance, atau selubung ketidaktahuan. Saat selubung ini turun mengenai kita, sebuah amnesia sementara terjadi secara massal. Kira-kira, memori apa yang akan dihapus dari otak kita? Dan bagaimana hal yang hilang ini justru menjadi kunci dari keadilan yang selama ini kita cari?

IV

Di bawah pengaruh veil of ignorance ini, kita mendadak lupa siapa diri kita di dunia nyata. Kita tidak tahu apa ras kita, gender kita, atau agama kita. Kita lupa apakah kita lahir di keluarga konglomerat di ibu kota, atau di pelosok desa tanpa akses listrik. Kita bahkan tidak tahu apakah kita memiliki tubuh yang sehat dengan IQ jenius, atau lahir dengan disabilitas yang membutuhkan bantuan khusus. Posisi amnesia mutlak inilah yang oleh Rawls disebut sebagai The Original Position (posisi asali). Di titik nol inilah keajaiban rasionalitas terjadi. Karena kita sama sekali tidak tahu "tiket kehidupan" apa yang akan kita cabut saat masuk ke dunia baru nanti, egoisme bawaan kita dipaksa bermutasi menjadi empati logis. Kita tidak akan berani merancang undang-undang di mana orang miskin dibiarkan mati kelaparan, karena kita mungkin saja menjadi orang miskin tersebut. Kita tidak akan menoleransi sistem yang rasis atau seksis, karena kita bisa saja lahir di kelompok yang didiskriminasi itu. Secara alamiah, ketakutan kita akan nasib buruk membuat kita merancang jaring pengaman sosial sekuat mungkin. Kita akan memastikan bahwa kondisi terburuk di dunia baru itu, masih sangat layak dan manusiawi untuk ditinggali.

V

Tentu saja, di dunia nyata ini tidak ada tombol reset ajaib. Kita juga tidak memiliki teknologi untuk menghapus ingatan kita agar bisa objektif. Namun, The Original Position bukanlah sekadar teori filsafat usang di dalam buku tebal. Ia adalah sebuah alat bantu berpikir kritis yang sangat tajam untuk melatih otot empati kita. Di era modern yang serba berisik dan terpolarisasi ini, sungguh mudah bagi kita untuk terjebak hanya membela kelompok atau kelas sosial kita sendiri. Tapi, mari kita coba sesekali meminjam kacamata John Rawls. Saat kita melihat sebuah kebijakan pemerintah yang kontroversial, atau fenomena ketimpangan di jalanan, berhentilah sejenak dan bertanyalah pada diri sendiri: Jika saya tidak tahu saya akan lahir sebagai siapa di negara ini, apakah saya akan setuju dengan sistem yang sedang berjalan? Pada akhirnya, keadilan sejati mungkin bukan tentang membagi kue secara sama rata ke semua piring. Keadilan sejati adalah ketika kita berani memotong kue tersebut, tanpa tahu potongan mana yang nantinya akan diberikan kepada kita.